Analisis Pemberian Kredit Konsumtif pada PT. Bank Mandiri (Persero)

UNIVERSITAS GUNADARMA

FAKULTAS EKONOMI

Disusun Oleh :

Nama                           :  Muhammad Ramadhan

NPM                           :  12209062

Jurusan                        :  Manajemen

Pembimbing                :

Diajukan Guna Melengkapi Sebagian Syarat

Dalam mencapai gelar Sarjana Strata Satu (S1)

BEKASI

2010

i

LEMBAR PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini,

N a m a            :  Muhammad Ramadhan

N.P.M                         :  12209062

Jurusan            :  Manajemen

Fakultas           :  Ekonomi

Judul Skripsi   : Analisis Pemberian Kredit Konsumtif pada PT. Bank Mandiri (Persero)

Dengan ini menyatakan bahwa hasil penulisan Skripsi yang telah saya buat ini merupakan hasil karya sendiri dan benar keasliannya. Apabila ternyata di kemudian hari penulisan Skripsi ini merupakan hasil plagiat atau penjiplakan terhadap karya orang lain, maka saya bersedia mempertanggungjawabkan sekaligus bersedia menerima sanksi berdasarkan aturan tata tertib di Universitas Gunadarma.

Demikian, pernyataan ini saya buat dalam keadaan sadar dan tidak dipaksakan.

Penulis,

Materai Rp.6000

[                             ]


ii

KOMISI  PEMBIMBING

NO. NAMA KEDUDUKAN
1.
2.
3.
4.

Tanggal Sidang : …./……/………

PANITIA PENGUJI

NO. NAMA KEDUDUKAN
1.
2.
3.
4.
5.

Tanggal Lulus : …./……/………

Mengetahui,

Pembimbing                                                                      Bagian Sidang Sarjana


iii

Abstrak :

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana Analisis Pemberian Kredit Konsumtif  untuk pegawai dan pensiunan pada PT. Bank Mandiri (Persero) dari tahun 2007 sampai dengan 2008. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Analisis Pemberian Kredit Konsumtif pada PT. Bank Mandiri (Persero) semuanya akan di bahas tuntas disini.

Kata Kunci : nasabah, bank, kredit.

Iv

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas

limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga Laporan

ini terselesaikan.

Dalam penyusunan Laporan ini kami banyak mendapat bantuan dan masukan dari berbagai pihak, dengan ini kami tak lupa menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Yth:

1. Prof. Dr. E. S. Margianti, SE., MM selaku Rektor Universitas Gunadarma

2. Orang tua yang juga telah banyak memotivasi / memberikan dorongan materi

dan lain-lainnya dalam rangka penyelesaian Penelitian Ilmiah.

3. Bapak Irfan Ardiansyah selaku Dosen Bank dan Lembaga Keuangan  yang telah banyak memberikan teori dan pelajaran yang penting buat saya.

4. Bapak/Ibu Dosen yang telah banyak memberikan arahan sampai kami dapat menyusun laporan sesuai dengan sistematika.

Laporan Penelitian Ilmiah ini tentu masih jauh dari sempurna, oleh

karena itu kami mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak yang bersifat

membangun dari para pembaca guna lebih menyempurnakan penyusunan

berikutnya.

Kami sebagai penyusun mengharapkan semoga Laporan ini dapat memberikan sumbangan pikiran serta bermanfaat bagi para pembaca yang terkait pada masalah ini.

Bekasi,………………… 2010

Penyusun

Muhammad Ramadhan

NPM. 12209062

DAFTAR ISI

Halaman Judul…………………………………………………………………………………………………..i
Halaman Pernyataan………………………………………………………………………………………….ii
Halaman Pengesahan……………………………………………………………………………………….iii
Abstraksi………………………………………………………………………………………………………..iv
Kata Pengantar…………………………………………………………………………………………………v
Daftar Isi………………………………………………………………………………………………………..vi

BAB I             PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang…………………………………………………………………………………………….1
1.2 Pokok Permasalahan…………………………………………………………………………………….1
1.3 Tujuan dan Manfaat Laporan………………………………………………………………………..2
1.3.1 Tujuan Laporan…………………………………………………………………………………..2
1.3.2 Manfaat Laporan…………………………………………………………………………………2
1.4 Metodologi…………………………………………………………………………………………………3
1.4.1 Metode Pengumpulan Data …………………………………………………………………3
1.4.2 Teknik Pengumpulan Data ………………………………………………………………….4
1.4.3 Jenis dan Sumber Data ……………………………………………………………………….4
1.4.4 Teknik Analisa……………………………………………………………………………………5

BAB II                        TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Umum Tentang Bank…………………………………………………………………..6
2.2 Pengertian Kredit…………………………………………………………………………………………6
2.3 Fungsi Kredit………………………………………………………………………………………………7
2.4 Jenis Kredit…………………………………………………………………………………………………7
2.5 Unsur Kredit……………………………………………………………………………………………….8
2.6 Perjanjian Kredit…………………………………………………………………..8
2.7 Sifat Umum Perjanjian Kredit………………………………………………………………………9
2.8 Fungsi Perjanjian Kredit………………………………………………………………………………9

BAB III          ANALISIS DAN PEMBAHASAN
3.1 Gambaran Umum PT. Bank Mandiri (Persero)………………………………………………10
3.1.1 Sejarah PT. Bank Mandiri (Persero)…………………………………………………….10
3.1.2 Struktur PT. Bank Mandiri (Persero)……………………………………………………11
3.1.3 Kegiatan Pokok PT. Bank Mandiri (Persero)…………………………………………11
3.2 Hasil Kerja………………………………………………………………………………………………..12
3.3 Hasil Penelitian………………………………………………………………………………………….13
3.4 Pembahasan………………………………………………………………………………………………13

BAB IV          PENUTUP
4.1 Kesimpulan……………………………………………………………………………………………….14
4.2 Saran………………………………………………………………………………………………………..14

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………………15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang Masalah

Merupakan masalah utama yang menimpa masyarakat. Dampak negatif dari masalah ini dapat berakibat buruk bagi masyarakat, baik itu masyarakat kota maupun desa. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu adanya penanganan yang serius dari pemerintah agar tertuang dalam GBHN bahwa tujuan Pembangunan Nasional adalah mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Dari tujuan Pembangunan Nasional tersebut sudah seyogyanya pemerintah memberikan bantuan kepada masyarakat guna meningkatkan taraf kehidupan ekonomi mereka serta guna tercapainya kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Sebagai upaya untuk mewujudkannya, maka pemerintah

Menyalurkan melalui lembaga-lembaga atau usaha-usaha perkreditan perbankan, salah satunya melalui PT. Bank Mandiri (Persero), ini dimaksudkan untuk membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat, maka akan

Berdampak pada bertambahnya jumlah bank baik bank umum maupun bank perkreditan rakyat, oleh karena itu bank tersebut berupaya untuk menciptakan produk-produk jasa bank guna memenangkan persaingan

Untuk menghimpun dana dari masyarakat dengan mengembangkan produkproduk. Produk perbankan ini diharapkan nantinya dapat membuat nasabah semakin tertarik untuk menanamkan dananya dalam bentuk tabungan, giro dan deposito yang kemudian oleh pihak bank dana yang terkumpul dari pihak ke-tiga itu disalurkan kembali dalam bentuk kredit kepada nasabah yang memerlukan dana baik untuk tujuan produktif maupun konsumtif. Kredit konsumtif yang diberikan oleh PT. Bank Mandiri (Persero) adalah kredit pegawai dan kredit pensiun. Kredit konsumtif ini

Dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan atau kelangsungan hidup mereka karena apabila hanya mengandalkan gaji tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di masa perekonomian sekarang ini. Dari uraian diatas, maka perlu penulis mencoba membahas tentang “Analisis Pemberian Kredit Konsumtif” pada PT. Bank Mandiri (Persero)”

1.2       Pokok Permasalahan

“Bagaimana Analisis Pemberian Kredit Konsumtif untuk pegawai dan pensiun pada PT. Bank Mandiri (Persero) dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2008?”

1.3 Tujuan dan Manfaat Laporan

1.3.1 Tujuan Laporan

Untuk mengetahui bagaimana Analisis Pemberian Kredit Konsumtif  untuk pegawai dan pensiunan pada PT. Bank Mandiri (Persero) dari tahun 2007 sampai dengan 2008.

1.3.2 Manfaat Laporan

1. Secara akademik merupakan salah satu persyaratan untuk menyelesaikan program S1 pada Universitas Gunadarma

2. Memperdalam ilmu pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah dengan membandingkan teori dan praktek pada dunia kerja yang sesungguhnya.

3. Dapat memberi gambaran tentang kegiatan dan aktifitas suatu perusahaan secara nyata dan jelas.

1.4 Metodelogi

1.4.1    Metode Pengumpulan Data

Metode studi kasus adalah metode yang bertujuan untuk memecahkan masalah dengan mengumpulkan data, menyusun dan menginterpretasikan kemudian menarik kesimpulan tersebut pada lingkup penelitian yang dilaksanakan (Imam Asyari Sapari, Drs. 1983: 81). Dalam hal ini peneliti akan meneliti suatu kasus tertentu mengenai Analisis Pemberian Kredit Konsumtif  pada PT. Bank Mandiri (Persero).

1.4.2    Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan penulis menyelesaikan laporan ini adalah:

1. Observasi yaitu teknik pengumpulan data dengan pengamatan secara langsung pada PT. Bank Mandiri (Persero) tentang apakah adanya kenaikan atau penurunan penerimaan kredit konsumtif pada PT. Bank Mandiri (Persero).

2. Interview yaitu teknik pengumpulan data dengan mengadakan wawancara atau tanya jawab secara langsung dengan pimpinan dan karyawan PT. BRI Cabang Mataram.

1.4.3    Jenis dan Sumber Data

1. Jenis Data

a. Kuantitatif yaitu data berupa angka-angka dalam tabel, mengenai kredit konsumtif untuk pegawai dan pensiun tahun 2007 sampai dengan tahun 2008.

b. Data kualitatif yaitu data yang berupa informasi uraianuraian atau penjelasan-penjelasan.

2. Sumber Data

a. Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari objek penelitian, khususnya pada bagian kredit dan bagian lain yang terkait pada PT. Bank Mandiri (Persero)

b. Data sekunder yaitu data yang bersumber dari luar perusahaan atau yang bersumber dari buku-buku pedomanserta teori-teori yang ada hubungannya dengan pokok permasalahan yang diajukan.

1.4.4    Teknik Analisa

Data Analisa yang digunakan untuk menjawab pokok permasalahan yang diajukan di muka adalah :

1. Analisa kualitatif yaitu penjelasan atau keterangan tentang hasil penelitian serta uraian yang membandingkan antara teori dan penerapan di lapangan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Umum Tentang Bank

Menurut Undang-undang RI Nomor 10 tahun 1998 tanggal 10 November 1998 tentang Perbankan menjelaskan sebagai berikut Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak (UU No. 10 tahun 1998).

Adapun pengertian Bank menurut beberapa ahli antara lain sebagai berikut:

Menurut Prof. Dr. Winardi, SE pengertian lain Bank adalah sebuah lembaga untuk menjamin uang, mengeluarkan uang kartal atau yang membantu menyimpan uang (Prof. Dr. Winardi, SE, 1996: 29).

Menurut Pierson, ahli ekonomi dari Belanda mengemukakan bahwa Bank adalah badan yang menerima kredit maksudnya adalah badan yang menerima simpanan dari masyarakat dalam bentuk Deposito, tabungan, deposito dan Giro. (Prathama rahardja, 1990: 65). Sedangkan menurut G.M. Verryn Stuart bank adalah suatu badan yang bertujuan untuk memuaskan kebutuhan kredit, bank dengan alat-alat pembayarannya sendiri atau dengan uang yang diperolehnya dari orang lain, maupun dengan jalan memperedarkan alat-alat penukar baru berupa uang giral” (Ir. Drs. Lukman Dendawija, 2000:25)

Dari pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Bank adalah badan usaha yang kegiatannya menghimpun dana dari masyarakat berupa tabungan, deposito, dan giro serta menyalurkannya kembali dalam bentuk kredit.

2.2 Pengertian Kredit

Kata kredit berasal dari bahasa Yunani yaitu “Credere” artinya “percaya”, oleh karena itu dasar dari kredit ialah kepercayaan seseorang atau suatu badan yang memberikan kredit (kreditur) percaya bahwa penerima kredit (debitur) di masa mendatang akan sanggup memenuhi segala sesuatu yang telah dijanjikan berupa barang, uang atau jasa (Drs. Thomas Suyatno, 1997: 12).

Menurut Undang-undang Perbankan No. 10 tahun 1998 pasal 1.c menyatakan arti kredit yaitu penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjammeminjam antara bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga” (Ir. Drs. Lukma Dendawijaya, MM., 2000: 17)

Sedangkan pengertian “kredit” menurut Susantyo Rokrediprojo yaitu kepercayaan dimana pihak pertama atau kreditur menyerahkan alat pembayaran/prestasi kepada pihak lain atua debitur untuk jangka waktu tertentu dan imbalan dari prestasi tersebut akan diserahkan di kemudian hari. (Susantyo Rokrediprojo, 1996: 3)

Di pihak lain Neno Soekarno menyatakan bahwa kredit adalah reputasi seseorang sebagai konsekuensi dimana dapat diperoleh uang, barang-barang atau kerja dengan membayar di kemudian hari. (Neno Soekarno, 1987: 1)

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian dari kredit adalah penyediaan uang dari pihak Bank berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara pihak bank dengan pihak lain dimana pihak peminjam harus atau berkewajiban untuk melunasi utangnya sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukan oleh pihak bank.

2.3 Fungsi Kredit

Dalam kehidupan perekonomian yang modern, bank memegang peranan penting. Oleh karena itu organisasi-organisasi bank selalu diikutsertakan dalam menentukan kebijakan di bidang moneter, pengawasan devisa, pencatatan efek-efek dan lain-lain. Hal ini disebabkan usaha pokok bank adalah mempunyai pengaruh yang sangat luas dalam segala bidang kehidupan khususnya di bidang ekonomi. Menurut Kashmir, SE, MM (2002: 97), fungsi kredit dalam kehidupan perekonomian dan keuangan dalam garis besarnya adalah sebagai berikut:

a. Untuk meningkatkan daya guna (utility) dari uang. Dengan adanya kredit dapat meningkatkan daya guna uang. Maksudnya jika uang hanya disimpan saja tidak akan menghasilkan sesuatu yang berguna. Dengan diberikannya kredit uang tersebut menjadi berguna untuk menghasilkan barang / jasa oleh si penerima kredit.

b. Untuk meningkatkan daya guna barang Kredit yang diberikan oleh bank akan dapat digunakan oleh si debitur untuk mengolah barang yang tidak berguna menjadi berguna atau bermanfaat.

c. Kredit dapat meningkatkan peredaran dan lalu lintas uang Dalam hal ini uang yang diberikan atau disalurkan akan beredar dari satu wilayah ke wilayah lainnya sehingga suatu daerah yang kekurangan uang dengan memperoleh kredit, maka daerah tersebut akan memperoleh tambahan uang dari daerah lainnya.

d. Meningkatkan peredaran barang Kredit dapat pula menambah atau memperlancar arus barang dari satu wilayah ke wilayah lainnya, sehingga jumlah barang yang beredar dari satu wilayah ke wilayah lainnya bertambah atau kredit dapat pula meningkatkan jumlah barang yang beredar.

e. Sebagai alat stabilitas ekonomi Dengan memberikan kredit dapat dikatakan sebagai stabiliitas ekonomi karena dengan adanya kredit yang diberikan akan menambah jumlah barang diperlukan oleh masyarakat. Kemudian dapat pula kredit mampu dalam mengekspor barang dari dalam negeri ke luar negeri sehingga meningkatkan devisa negara.

f. Untuk meningkatkan kegairahan berusaha Bagi si penerima kredit tentu akan dapat meningkatkan kegairahan berusaha, apalagi bagi si nasabah yang memang modalnya pas-pasan.

g. Untuk meningkatkan pemerataan pendapatan Semakin banyak kredit yang disalurkan maka akan semakin baik terutama dalam hal meningkatkan pendapatan. Jika sebuah kredit diberikan untuk membangun pabrik, maka pabrik tersebut tentu membutuhkan tenaga kerja sehingga dapat pula mengurangipenggagguran. Disamping itu bagi masyarakat sekitar pabrik juga akan dapat meningkatkan pendapatannya seperti membuka warung atau menyewa rumah kontrakan atau jasa lainnya.

h. Untuk meningkatkan hubungan internasional Dalam hal pinjaman internasional akan dapat meningkatkan saling membutuhkan antara si penerima kredit dengan si pemberi kredit. Pemberian kredit oleh negara lain akan meningkatkan kerjasama di bidang lainnya.

2.4 Jenis Kredit

2.4.1    Kredit konsumtif

Kredit konsumtif adalah kredit yang digunakan untuk dikonsumsi secara pribadi dalam kredit ini tidak ada pertambahan barang danjasa yang dihasilkan karena memang untuk digunakan atau dipakai oleh seseorang atau badan usaha.

Ada 2 jenis kredit konsumtif yang diberikan oleh PT. Bank Mandiri (Persero) antara lain:

1. Kredit Pegawai atau Kretap

adalah kredit yang diberikan kepada para pegawai instansi pemerintah / BUMN / BUMD / TNI / POLRI dan pegawai swasta yang telah diangkat sebagai pegawai tetap. Adapun ketentuan dalam pemberian kredit pegawai adalah sebagai berikut:

a. Pemberian kretap harus dilaksankana sesuai persyaratan yang telah ditetapkan oleh Kanpus BRI baik berupa SE/SK, Surat maupun petunjuk lain.

b. Permohonan kretap harus dilakukan secara tertulis dengan menggunakan formulir standar yang telah ditetapkan oleh PT. Bank Mandiri (Persero).

c. Pemeriksaan lapangan atas permohonan kretap dilakukan secara uji petik dan dilaksanakan oleh petugas yang ditunjuk.

d. Permohonan kretap harus disetujui/diputus oleh Pinca atau pejabat kredit lini lain yang diberi kewenangan untuk memutus permohonan kretap.

e. Angsuran kretap setiap bulan dipotong langsung dari gaji debitur yang dibayarkan melalui BRI.

f. Instansi / perusahaan melakukan pembayaran angsuran kretap secara kolektif / melalui bendaharawan instansi / perusahaan yang bersangkutan.

g. Bila karena sesuatu hal ada KP-02 yang harus diretour / tidak terpotong gajinya maka akan ditagih bersama-sama tagihan bulan berikutnya.

h. Besarnya kretap yang dapat diberikan kepada setiap debitur sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

i. Atas kerjasama pemotongan gaji dimaksud PT. Bank Mandiri (Persero)  memberikan insentif / fee kepada bendaharawan atau pimpinan instansi / perusahaan tersebut yang besarnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

j. Setiap debitur kretap wajib diasuransikan kepada perusahaan asuransi jiwa kredit yang telah ditetapkan sesuai dengan SE/SK, Surat dan petunjuk lain.

k. Berkas pinjaman untuk kretap dikelola dalam satu berkas yang disimpan dalam sebuah amplop :

1)         Di depan amplop harus ada keterangan mengenai identitas peminjaman yang terdiri dari : CIF Number NIN), account number / No. rekening dan nama debitur.

2)         Amplop tersebut harus disimpan dalam ruang yang aman dan terkunci.

2. Kredit Pensiun

adalah kredit yang diberikan kepada para pensiun PNS dan jandanya, ABRI dan andanya, pegawai BUMN / BUMD dan jandanya, pegawai swasta yang mempunyai yaysan Dana pensiun yang pembayarannya dilakukan di kota yang sama dengan tempat tinggal para pensiunan. Adapun ketentuan pemberian kredit pensiun adalah sebagai berikut:

a. Pemberian kredit harus dilaksanakan sesuai persyaratan yang telah ditetapkan oleh Kanpus BRI baik berupa SE/SK maupun petunjuk lain.

b. Permohonan kresun harus dilakukan secara tertulis dengan menggunakan formulir standar yang telah ditetapkan oleh PT. Bank Mandiri (Persero).

c. Pemeriksaan lapangan atas permohonan kresun dilakukan secara sampling dan dilaksanakan oleh petugas yang ditunjuk.

d. Permohonan kresun harus disetujui / diputus oleh pinca / pejabat lini lain yang diberi kewenangan untuk memutus permohonan Kresun.

e. Angsuran kresun setiap bulan dipotong langsung dari gaji pensiunnya melalui juru bayar / bendaharawan pembayar pensiun yang dalam hal disingkat TPP dengan mengirimkandaftar pemotongan gaji pensiun (Dapem) disertai bukti tanda terima angsuran pinjaman.

f. TPP melakukan pembayaran angsuran kresun secara kolektif segera setelah selesai pembayaran gaji pensiun pada bulan yang bersangkutan.

g. Bila krena sesutu hal ada KP-02 yang harus diretour / tidak terpotong gaji pensiunnya maka akan ditagih bersama-sama pada bulan berikutnya.

h. Besarnya kresun yagn dapat diberikan kepada setiap debitur sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

i. Atas kerjasamanya pemotongan gaji dimaksud PT. Bank Mandiri (Persero)  memberikan insentif / fee kepada bendaharawan atua pimpinan instansi / perusahaan tersebut yang besarnya sesuai dengan ketentuan yagn berlaku.

j. Setiap debitur kresun wajib diasuransikan keapda perusahaan asuransi jiwa kredit yang telah ditetapkan.

k. Berkas pinaman untuk kresun dikelola dalam suatu berkas yang disimpan dalam sebuah amplop:

1)         Di depan amplop harus ada keterangan mengenai Identitas peminjam yang terdiri dari CIF Number (NIN), Account Number / No. Rekening dan Nam Debitur.

2)         Amplop tersebut harus disimpan dalam ruang yang aman dan terkunci.

2.5 Unsur-unsur kredit
1. Kepercayaan.
Adanya keyakinan dari pihak bank terhadap prestasi yang diberikan kepada
nasabah debitur yang akan dilunasinya sesuai dengan jangka waktu yang di
perjanjikan.
2. Jangka Waktu.
Adanya jangka waktu antara pemberian kredit dan pelunasannya, dimana
jangka waktu tersebut sebelumnya telah ditentukan terlebih dahulu, berdasar
kan kesepakatan bersama.
3. Prestasi.
Adanya objek berupa prestasi dan kontraprestasi pada saat tercapainya
kesepakatan dalam perjanjian pemberian kredit antara bank dengan nasabah
debitur, berupa bunga atau imbalan.
4. Risiko.
Adanya jangka waktu antara pemberian kredit dan pelunasannya,
memungkinkan adanya risiko dalm perjanjian kredit tersebut. Untuk itu, untuk
mencegah terjadinya risiko tersebut (berupa wanprestasi), maka diadakan
pengikatan jaminan/agunan yang dibebankan kepada pihak nasabah debitur.
2.6 Perjanjian Kredit memiliki 2 (dua) bentuk, yaitu:

1.      Dalam Bentuk Akta Bawah Tangan (Pasal 1874 BW)
merupakan akta perjanjian yang baru memiliki kekuatan hukum pembuktian
apabila diakui oleh pihak-pihak yang menanda-tangani dalam akta perjanjian
tersebut. agar akta ini tidak mudah dibantah, maka diperlukan pelegalisasian
oleh Notaris, agar memiliki kekuatan hukum pembuktian yang kuat seperti
akta otentik.

2.      Dalam bentuk Akta Otentik.
merupakan akta perjanjian yang memiliki kekuatan hukum pembuktian yang
sempurna, karena ditanda tangani langsung oleh pejabat pembuat akta, yaitu
Notaris, dan akta ini dianggap sah dan benar tanpa perlu membuktikan
keabsahannya dari tanda tangan pihak lain.

2.7 Sifat-sifat umum perjanjian kredit:

1. Merupakan perjanjian pendahuluan.
sebelum uang/objek dari perjanjian diserahkan, terlebih dahulu harus ada
persesuaian kehendak antara pemberi dan penerima kredit yang disepakati
dalam suatu perjanjian kredit. Jadi perjanjian kredit merupakan perjanjian
pendahuluan sebelum diberikannya objek/uang.
2. Merupakan perjanjian bernama.
hal ini sebagaimana yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. kalau
dia diatur dalam perundang-undangan disebut dengan perjanjian bernama,
maka sebaliknya.
3. Merupakan perjanjian standar.
dimana bentuk dan isi dari perjanjian tersebut telah ditetapkan terlebih dahulu,
sehingga pihak lawan dalam perjanjian hanya diminta untuk menyetujui apa-
apa saja yang tercantum dalam perjanjian kredit tersebut.

2.8 Fungsi perjanjian kredit:

1. sebagai perjanjian pokok.
2. sebagai alat bukti mengenai batasan hak antara kreditur dan debitur.
3. sebagai alat monitoring kredit.

BAB III

DATA DAN PEMBAHASAN

3.1 Gambaran Umum PT. Bank Mandiri (Persero)

3.1.1    Sejarah PT. Bank Mandiri (Persero)

Pra penggabungan

Sejarah keempat Bank (BBD, BDN, Bank Exim, dan Bapindo) tersebut sebelum bergabung menjadi Bank Mandiri, dapat ditelusuri lebih dari 140 tahun yang lalu. Keempat bank nasional tersebut telah turut membentuk riwayat perkembangan dunia perbankan Indonesia, dan masing-masing telah memainkan peranan yang penting dalam pembangunan ekonomi di Indonesia.

Bank Dagang Negara

Bank Dagang Negara merupakan salah satu bank tertua di Indonesia. Sebelumnya Bank Dagang Negara dikenal sebagai Nederlandsch Indische Escompto Maatschappij yang didirikan di Batavia (Jakarta) pada tahun 1857. Pada tahun 1949 namanya berubah menjadi Escomptobank NV. Selanjutnya, pada tahun 1960 Escomptobank dinasionalisasi dan berubah nama menjadi Bank Dagang Negara, sebuah Bank pemerintah ynag membiayai sektor industri dan pertambangan.

Bank Bumi Daya

Bank Bumi Daya didirikan melalui suatu proses panjang yang bermula dari nasionalisasi sebuah perusahaan Belanda De Nationale Handelsbank NV, menjadi Bank Umum Negara pada tahun 1959. Pada tahun 1964, Chartered Bank (sebelumnya adalah Bank milik Inggris) juga dinasionalisasi, dan Bank Umum Negara diberi hak untuk melanjutkan operasi Bank tersebut. Pada tahun 1965, bank umum negara digabungkan ke dalam Bank Negara Indonesia dan berganti nama menjadi Bank Negara Indonesia Unit IV beralih menjadi Bank Bumi Daya.

Bank Ekspor Impor Indonesia

Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim) berawal dari perusahaan dagang Belanda N.V. Nederlansche Handels Maatschappij yang didirikan pada tahun 1842 dan mengembangkan kegiatannya di sektor perbankan pada tahun 1870. Pemerintah Indonesia menasionalisasi perusahaan ini pada tahun 1960, dan selanjutnya pada tahun 1965 perusahan ini digabung dengan Bank Negara Indonesia menjadi Bank Negara Indonesia Unit II. Pada tahun 1968 Bank Negara Indonesia Unit II dipecah menjadi dua unit, salah satunya adalah Bank Negara Indonesia Unit II Divisi Expor – Impor, yang akhirnya menjadi BankExim, bank Pemerintah yang membiayai kegiatan ekspor dan impor.

Bank Pembangunan Indonesia

Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) berawal dari Bank Industri Negara (BIN), sebuah Bank Industri yang didirikan pada tahun1951. Misi Bank Industri Negara adalah mendukung pengembangan sektor – sektor ekonomi tertentu, khususnya perkebunan, industri, dan pertambangan. Bapindo dibentuk sebagai bank milik negara pada tahun 1960 dan BIN kemudian digabung dengan Bank Bapindo. Pada tahun 1970, Bapindo ditugaskan untuk membantu pembangunan nasional melalui pembiayaan jangka menengah dan jangka panjang pada sektor manufaktur, transportasi dan pariwisata.

Pasca penggabungan

Bank Mandiri dibentuk pada 2 Oktober 1998, dan empat bank asalnya efektif mulai beroperasi sebagai bank gabungan pada pertengahan tahun 1999. Dalam proses penggabungan dan pengorganisasian ulang tersebut, jumlah cabang Bank Mandiri dikurangi sebanyak 194 buah dan karyawannya berkurang dari 26.600 menjadi 17.620. Direktur Utamanya yang pertama adalah Robby Djohan. Kemudian pada Mei 2000, posisi Djohan digantikan ECW Neloe. Neloe menjabat selama lima tahun, sebelum digantikan Agus Martowardojo sebagai Direktur Utama sejak Mei 2005. Neloe menghadapi dugaan keterlibatan pada kasus korupsi di bank tersebut.

Pada Maret 2005, Bank Mandiri mempunyai 829 cabang yang tersebar di sepanjang Indonesia dan enam cabang di luar negeri. Selain itu, Bank Mandiri mempunyai sekitar 2.500 ATM dan tiga anak perusahaan utama yaitu Bank Syariah Mandiri, Mandiri Sekuritas, dan AXA Mandiri.

3.1.2 Struktur Organisasi PT. Bank Mandiri (Persero)

Pelaksanaan kegiatan PT. Bank Mandiri (Persero) akan dapat berjalan dengan baik jika ditetapkan fungsi manajemen dengan tepat yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengawasan. Hal ini dengan adanya struktur organisasi yang lengkap dengan gambar.

3.1.3 Kegiatan Pokok PT. Bank Mandiri (Persero)

Kegiatan pokok usaha yang dilakukan oleh PT PT. Bank Mandiri (Persero)  sampai saat ini hanya 2 (dua) bentuk usaha, antara lain:

1. Menghimpun dana dari masyarakat, yang berupa:

a. Tabungan

yaitu simpanan dari pihak ketiga kepada Bank yang penarikannya hanya dapat dilakukan dengan syarat-syarat tertentu.

Adapun jenis tabungan yang diberikan oleh PT. Bank Mandiri (Persero) kepada masyarakat, antara lain:

1) Tabungan Britama yaitu tabungan pihak ke-III yang penyetoran dan penarikannya bebas dan transaksi uker asal / uker lain.

2) Tabungan Simpedes yaitu simpanan masyarakat dalam bentuk tabungan dalam mata uang rupiah yang dilayani di Mandiri Unit / KCP / Kanca Mandiri yang penyetorannya dapat dilakukan setiap saat dimana frekuensi serta jumlah pengambilan tidak dibatasi sepanjang saldonya mencukupi.

b. Deposito

yaitu simpanan dari pihak ke-III kepada bank dimana penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak ditarik dengan cek, bilyet giro dan atau lainnya yang dapat dipersamakan dengan itu.

Adapun jenis deposito yang diberikan oleh PT. Bank Mandiri (Persero) kepada masyarakat, antara lain:

1) Deposito rupiah yaitu simpanan berjangka dalam mata uang rupiah yang dikeluarkan oleh BRI, dimana penarikannya hanya dapat dilakukan dalam jangka waktu tertentu.

2) Deposito Valas yaitu simpanan pihak ke-III berupa deposito dalam mata uang asing yang hanya dapat diambil dalam jangka waktu tertentu.

c. Giro

yaitu simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, sarana perintah pembayaran lainnya atau dengan cara pemindahbukuan.

Adapun jenis giro yang diberikan oleh PT. Bank Mandiri (Persero) kepada masyarakat antara lain:

1) Giro Mandiri Rupiah yaitu simpanan pihak ketiga dalam mata uang rupiah yang penarikannya dapat dilakukan sewaktu-waktudengan menggunakan warkat cek / bilyet giro atau surat perintah penarikan lainnya.

2) Giro Mandiri Valas yaitu simpanan dalam valuta asing pihak ketiga pada Mandiri yang setiap saat dapat diambil alih oleh pemegang rekening yang bersangkutan.

2. Menyalurkan Dana

Dana yang disalurkan pihak bank kepada masyarakat yaitu dalam bentuk kredit, dimana kredit yang disalurkan yaitu:

a. Kredit Ritel

1) Kredit Modal Kerja

adalah fasilitas kredit yang dipergunakan untuk membiayai operasional perusahaan yang berhubungan dengan pengadaan maupun proses produksi sampai dengan barang tersebut dijual atau sejumlah dana yang tertanam dalam aktiva lancar yang diperlukan untuk menjalankan aktivitas perusahaan.

2) Kredit Investasi

adalah fasilitas kredit yang diberikan untuk membantu pembiayaan pemohon dalam memperoleh barang modal / aktiva tetap perusahaan seperti untuk pengadaan mesinmesin / peralatan, pendirian bangunan untuk proyek baru atau rehabilitasi dan modernisasi proyek yang sudah ada.

3) Kredit dengan Agunan Kas

adalah kredit yang seluruh jaminannya berupa agunan kas, dimana apabila debitur wanprestasi maka seluruh agunan tersebut akan dicairkan untuk melunasi seluruh jaminan tersebut.

4) Kredit Import

adalah fasilitas kredit untuk membiayai seluruh / sebagian kegaitan dalam rangka import barang, khususnya yang berhubungan dengan L/C import yang dibuka pada opening bank.

5) Kredit ekspor

adalah kredit modal kerja untuk membiayai seluruh atau sebagian kegiatan dalam rangka ekspor yang meliputi seluruh tahap kegiatan produksi barang ekspor sampai dengan pengambilalihan / pencairan wesel ekspor (negosiasi).

6) Bank Gransi

adalah jaminan yang diberikan oleh bank untuk kepentingan nasabah, yang dimaksudkan untuk memberikan jaminan kepada penerima jaminan (pihak ketiga) bahwa bank akan memenuhi kewajiban nasabah kepada penerima jaminan (pihak ketiga) sesuai yang telah diperjanjikan.

7) KMK Konstruksi (kredit modal kerja)

adalah kredit modal kerja untuk membiayai kebutuhan modal kerja kontraktor yang memperoleh kontrak pengadaan atau penyelesaian suatu proyek.

8) KPR BRI (Kredit Pemilikan Rumah) Kredit Pemilikan Rumah BRI

adalah fasilitas kredit yang oleh Mandiri untuk keperluan:

a) Pembelian rumah tinggal, rumah toko (ruko), rumah kantor (rukan) baik baru maupun take over.

b) Membangun rumah tinggal, rumah toko (ruko), rumah kantor (rukan) di atas lahan / kaveling yang telah dimiliki.

c) Merenovasi rumah tinggal, rumah toko (ruko), rumah kantor (rukan) yang sudah dimiliki calon debitur.

9) KKB BRI (Kredit Kendaraan Bermotor)

adalah kredit yang diberikan untuk keperluan pembelian kendaraan bermotor.

10) Kretap (Kredit Pegawai Berpenghasilan Tetap)

adalah kredit yang diberikan kepada pegawai instansi pemerintah / BUMN (di luar pegawai Mandiri) / BUMD / Swasta yang telah diangkat sebagai pegawai tetap.

11) Kresun (Kredit Pensiun)

adalah kredit yang diberikan kepada para pensiunan atau jandanya yang menrima uang pensiun secara tetap setiap bulannya.

b. Pinjaman Kredit Menengah

adalah fasilitas kredit yang diberikan kepada debitur dengan total eksposure kredit direct maupun contingent (baik secara individu maupun group) di atas Rp. 5 Milyar sampai dengan batas maksimum pemberian kredit.

c. Pinjaman Mikro / Kupedes

adalah kredit yang bersifat umum, individual, selektif dan berbunga wajar yang bertujuan untuk mengembangkan atau meningkatkan usaha mikro yang layak.

d. Kredit Program

1) KPR bersubsidi (Kredit Kepemilikan Rumah)

adalah kredit kepemilikan rumah yang mendapatkan subsidi dari pemerintah dan dapat digunakan untuk membangun / memperbaiki rumah.

2) KUMK – Dana SUP (Kredit Usaha Mikro dan Kecil Surat Utang Pemerintah)

adalah dana yang dialokasikan kepada BUMN pengelola atau lembaga keuangan dalam bentuk pinjaman.

3) Kredit Komersial Koperasi

adalah kredit modal kerja atau kredit investasi yang diberikan keapda koperasi untuk usaha produktif dan simpan pinjam.

4) Pinjaman Kemitraan

adalah kredit yang diberikan kepada usaha kecil dan koperasi yang belum layak secara bank tehnis untuk mendapatkan kredit secara komersial.

5) KKGUK (Kredit Kelompok dan Gabungan Usaha Kecil)

adalah kredit kepada kelompok dan gabungan kelompok usaha kecil.

6) KKP (Kredit Ketahanan Pangan)

adalah kredit ketahanan pangan dalam rangka pengadaan pangan melalui pembelian padi / beras petani oleh Koperasi / KUD.

7) KKP Peternakan

adalah kredit investasi dan/atau modal kerja yang diberikan kepada peternak dalam rangka kegiatan usaha peternakan.

8) KKP Intensifikasi

adalah kredit ketahanan pangan untuk intensifikasi padi, kedelai, jagung, ubi kayu dan ubi jalar.

9) Kredit P4K (Program Peningkatan Pendapatan Petani / Nelayan Kecil),

10) Kredit PEMP (Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir).

11) Kredit Budidaya Ikan dan Rumput Laut.

3.2 Hasil Kerja

Selama kurang lebih 1 (satu) bulan yang dimulai dari tanggal 2 Februari 2009 sampai dengan tanggal 27 Februari 2009 pada PT. Bank Mandiri (Persero) cukup memberikan hasil yang baik kepada penulis, sehingga dapat menambah ilmu dan pengetahuan tentang dunia kerja yang sebenarnya.

Kegiatan atau aktivitas selama di PT. Bank Mandiri (Persero) adalah sebagai berikut:

1. Membantu bagian kredit dalam hal memberikan pelayanan bagi para nasabah yang membutuhkan bantuan kredit.

2. Melayani nasabah yang datang untuk mengajukan permohonan kredit dan melengkapi data-datanya.

3. Meregister pengajuan kredit yang telah diverifikasi untuk diperiksa oleh Account Officer.

4. Membantu nasabah dalam menghitungkan kredit pelunasan dan kompensasi.

5. Membantu karyawan meregister berkas-berkas yang telah direalisasi sehingga kwitansi bisa diaktifkan dan nasabah dapat melakukan pencairan pinjaman.

6. Menjelaskan kepada nasabah tentang persyaratan dalam pengajuan kredit.

7. Menghitung insentif yang diminta oleh bendahara juru bayar dari dinas / instansi.

8. Meregister insentif yang akan ditandatangani oleh Pimpinan Cabang.

9. Membawa berkas yang telah diperiksa AO untuk disetujui oleh Pimpinan Cabang.

10. Membantu karyawan membuat Fiducia bagi nasabah yang pengajuan kreditnya menggunakan jaminan.

3.3 Hasil Penelitian

Dari hasil pengamatan, penulis menemukan beberapa masalah yang perlu dipecahkan yang terkait dengan pemberian kredit konsumtif untuk pegawai dan pensiunan pada PT. Bank Mandiri (Persero).

Tabel 1 : Data kredit konsumtif untuk pegawai dan pensiun pada PT. Bank Mandiri (Persero) tahun 2007 sampai dengan tahun 2008

No Tahun Jenis Kredit Jumlah Nasabah Jumlah Nominal
1 2007 Konsumtif 8,111 137,193,065,916.92
2008 8,547 203,924,022,646.19

Sumber : Data Primer diolah

Kredit konsumtif adalah kredit yang digunakan untuk dikonsumsi secara pribadi. Dalam kredit ini tidak ada pertambahan barang dan jasa yang dihasilkan karena memang untuk digunakan atau dipakai oleh seseorang atau badan usaha. Ada dua jenis kredit yang diberikan oleh PT. Bank Mandiri (Persero) yaitu kredit pegawai dan kredit pensiun.

Dari tabel 1 diketahui data kredit konsumtif untuk pegawai dan pensiun tahun 2007 sampai dengan tahun 2008 yang diberikan pada PT. Bank Mandiri (Persero) yang dimana mengalami peningkatan jumlah nasabah maupun jumlah nominal yaitu pada tahun 2007 jumlah nasabah sebanyak 8,111 orang dan tahun 2008 mengalami peningkatan sebanyak 8,547 orang dan jumlah nominal pada tahun 2007 sebesar 137,193,065,916.92 mengalami peningkatan pada tahun 2008 sebesar 203,924,022,646.19

3.4 Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai pemberian kredit konsumtif yang dilaksanakan pad PT. Bank Mandiri (Persero) yang setiap tahunnya mengalami peningkatan atau penurunan. Hal ini dapat penulis analisis dari data yang diperoleh pada PT. Bank Mandiri (Persero).

Tabel 2 : Perkembangan kredit konsumtif untuk pegawai dan pensiun pada PT. Bank Mandiri (Persero)  tahun 2007 sampai dengan tahun 2008

Jumlah Nasabah Jumlah Nominal
No Keterangan Karakteristik 2007 2008 2007 2008
1 Konsumtif a. Lancar 7,875 8,157 133,903,765,793.00 195,081,091,849.00
b. Dalam Perhatian Khusus 149 302 2,131,867,516.92 7,389,778,277.36
c. Kurang Lancar 13 12 244,010,762.00 260,050,957.00
d. Diragukan 7 9 132,729,436.00 194,948,739.00
e. Macet 67 67 780,692,409.00 998,152,823.80
Jumlah 8,111 8,547 137,193,065,916.92 203,924,022,646.19

Sumber : Data Primer Diolah

Dari tabel dua di atas diketahui perkembangan kredit konsumtif untuk pegawai dan pensiun berdasarkan karakteristik debitur yaitu debitur lancar, dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan dan macet.

Masing-masing kategori ini harus dibuat kriteria tersendiri sehingga mengatur selektifitasnya dapat mudah dilakukan. Pada debitur lancar adanya peningkatan jumlah nasabah dan jumlah nominalnya dimana jumlah nasabah mengalami peningkatkan sebesar 3% yaitu pada tahun 2007 sebanyak 7,875 dan tahun 2008 sebanyak 8,157. Hal ini disebabkan karena debitur dalam kategori atau karakteristik lancar dengan bank, dalam artian kelancaran pembayaran pokok, pembayaran bunga, kelancaran dalam setoran untuk mutasi rekeningnya, kelancaran dalam usaha dan penjualan hasil-hasil usaha.

Untuk debitur dalam perhatian khusus mengalami peningkatan sebesar 50% dimana jumlah nasabah yaitu tahun 2007 sebanyak 149 dan tahun 2008 sebanyak 302. Yang mana hal ini harus mendapat perhatian dari pihak, karena dalam artian adanya tunggakan selama satu bulan dan pihak bank harus mengantisipasi atas keadaan ini, karena hal ini akan berdampak buruk bagi aktivitas bank.

Untuk kategori debitur kurang lancar terdapat penurunan jumlah nasabah walaupun tidak terlalu besar yaitu 8% pada tahun 2007 sebanyak 13 orang dan pada tahun 2008 mengalami penurunan sebanyak 12 orang. Hal ini berdampak baik bagi bank dalam usahanya untuk mengurangi kredit yang kurang lancar.

Untuk debitur diragukan tunggakan sudah melebihi tiga bulan. Terdapat peningkatan sebesar 22% yaitu pada tahun 2007 sebanyak 7 orang dan pada tahun 2008 sebanyak 9 orang. Dalam hal ini bank harus mengambil sikap atas keadaan ini karena akan berdampak buruk bagi aktivitas bank dan pihak bank perlu memberikan sanksi kepada debitur yang melakukan kesalahan tersebut dan pihak bank perlu memperketat aturan dalam pemberian kredit.

Untuk kredit macet sudah jelas kriterianya yaitu kredit yang telah melalui Maturity Date (Jatuh Tempo) belum juga dapat diselesaikan karena kesulitan usaha dan kemacetan dalam pembayaran hutang pokok dan atau bunganya. Pada data tersebut tidak adanya peningkatan jumlah nasabah karena jumlah nasabahnya tetap dan hanya adanya peningkatan jumlah nominalnya yaitu pada tahun 2007 sebesar 780,692,408. Dan pada tahun 2008 mengalami peningkatan sebesar 998,152,823.

Untuk mengatasi kredit macet tersebut Bank memberikankeringanan yaitu berupa penghapusan bunga dan apabila debitur tetap tidak bisa membayar, maka pihak bank akan melakukan pelelangan terhadap barang jaminan yang diberikan oleh debitur.

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan uraian hasil penelitian dan pembahasan pada bab terdahulu, maka penulis dapat menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

PT. Bank Mandiri (Persero) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa perkreditan dan simpan-pinjam.

Langkah penilaian selektifitas perkreditan merupakan langkah yang sangat penting untuk dilakukan karena hanya sekedar kualitas tanpa disertai kuantitas lebih dari itu dapat membahayakan usaha bank. Sebaliknya hanya kuantitas tanpa diimbangi kualitasnya, maka kegiatan perkreditan akan menjadi sempit serta timbul suatu keadaan ketergantungan bank terhadap beberapa debitur. Ini juga membahayakan karena resiko terkumpul pada beberapa gelintir debitur, sehingga terjadi hal yang kurang baik, bank akan terancam keadaan likuitas dan rentabilitasnya.

Pemberian Kredit konsumtif untuk pegawai dan pensiun mengalami peningkatan dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2008 yaitu peningkatan jumlah nasabah yaitu pada tahun 2007 sebanyak 8,111 dan tahun 2008 sebanyak 8,547 sedangkan jumlah nominal mengalami peningkatan yaitu pada tahun 2007 sebesar 137,193,065,916.92 dan pada tahun 2008 sebesar 203,924,022,646.19.

4.2 Saran

Dalam usaha meningkatkan kelancaran pemberian kredit kepada nasabah yang tentunya untuk kredit konsumtif perlu adanya peningkatan baik terhadap rencana kerja bank, perlu diperketat lagi, dalam pelaksanaan perlu adanya penegasan dan pemberian sanksi-sanksi kepada nasabah yang melanggar peraturan-peraturan dan tata tertib yang telah ditentukan pihak bank.

DAFTAR PUSTAKA
Dendawijaya, Lukman. 2000. Manajemen Perbankan. Edisi 2. Jakarta: Gramedia Indonesia.

Kasmir. 2001. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Jakarta
Rahardja, Pratama. 1990. Uang dan Perbankan. Jakarta: Rineka Cipta

Thomas Suyanto, dkk. 1995. Kelembagaan Perbankan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: