TUGAS METODE RISET

NAMA : MUHAMMAD RAMADHAN

KELAS 3EA12

NPM : 12209062

JURNAL 1

PENGARANG: LILIK PURWONINGSIH

JUDUL: GAMBARAN KENAKALAN PADA REMAJA YANG DISEBABKAN KARENA PERCERAIAN ORANG TUA

TAHUN : 2011

TEMA            : DAMPAK AKIBAT PERCERAIAN ORANG TUA TERHADAP PERILAKU REMAJA

LATAR BELAKANG MASALAH

Fenomena : akhir–akhir ini kenakalan remaja muncul ke permukaan dengan sosok yang lebih variatif dan memprihatinkan semua pihak. Jika kenakalan remaja pada zaman dahulu hanya menyebabkan terjadinya senyuman bagi mereka yang melihatnya, tetapi kini mereka mengekspresikan wajah kemarahan. Betapa tidak, kenakalan remaja kini telah bergeser kepada tindakan kriminal yang sangat merisaukan dan mengancam taraf keselamatan dan ketentraman hidup masyarakat. Jika dahulu kenakalan misalnya perkelahian dimaksudkan untuk mendapatkan pengakuan akan “kejagoan” dan berkelahi dengan tangan kosong, maka kini telah mulai menggunakan senjata tajam seperti potongan besi, parang, clurit bahkan pistol untuk membunuh dan melenyapkan saingannya.

Penelitian yang Dijadikan Dasar : Tercemarnya nama baik seseorang, harga diri dan martabat seseorang, dan ada pula kenakalan remaja dalam kehidupan sosial, melanggar norma- norma sosial dan adat yang berlaku, kebiasaan masyarakat dan hukum yang berlaku, dan sebagainya.

Motivasi penelitian: Untuk mengetahui apa penyebab dari dampak seperti ini.

Masalah : Di Amerika Serikat hampir lebih dari 40 % orang-orang yang melakukan kejahatan serius adalah anak-anak remaja nakal. Ditemukan setiap harinya 2500 anak lahir di luar pernikahan, 135.000 anak membawa senjata tajam ke sekolah, 7.700 anak umur belasan melakukan kegiatan seksual aktif, 600 anak umur belasan mengidap syphilis atau gonorhoe, dan 6 anak umur belasan memutuskan untuk bunuh diri.

Faktor penyebab kenakalan remaja itu dapat dikelompokan menjadi empat bagian yaitu :

1. Di dalam diri anak itu sendiri

Faktor – faktor yang ada dalam diri anak itu sendiri :

a. Lemahnya kemampuan pengawasan diri terhadap pengaruh lingkungan.

b. Kurangnya kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungannya.

c. Kurang sekali dasar – dasar keagamaan di dalam diri, sehingga sukar mengukur norma luar atau memilih norma yang baik dilingkungan masyarakat. Dengan perkataan lain, anak yang demikian amat mudah terpengaruh oleh lingkungan yang kurang baik.

2. Di dalam lingkungan keluarga.

Keluarga merupakan sumber utama atau lingkungan yang utama penyebab kenakalan remaja. Hal ini disebabkan karena anak itu hidup dan berkembang permulaan sekali dari pergaulan keluarga yaitu hubungan antara orang tua dan anak, ayah dengan ibu, dan hubungan anak dengan keluarga lain yang tinggal bersama–sama. Disamping itu, perhatian terhadap orang tua terhadap masing–masing anak lebih mudah diberikan, baik mengenal akhlak, pendidikan di sekolah, pergaulan dan sebagainya.

Mengingat amat banyak faktor penyebab kenakalan remaja yang berasal dari lingkungan keluarga, maka dibawah ini kami uraikan sebagian saja, yaitu :

a. Anak kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian orang tua. Sehingga hal yang

amat dibutuhkannya itu terpaksa ia cari diluar rumah seperti didalam kelompok

kawan–kawannya. Tidak semua teman–temannya itu berkelakuan baik, akan tetapi

lebih banyak berkelakuan kurang baik seperti mencuri, suka berkelahi, dan

sebagainya.

b. Kehidupan keluarga yang tidak harmonis lagi. Yang dimaksud dengan keluarga harmonis itu sendiri ialah apabila struktur keluarga itu utuh dan interaksi diantara 10anggota keluarga berjalan dengan baik. Artinya, apabila hubungan psikologis diantara mereka cukup memuaskan dirasakan oleh setiap anggota keluarga. Apabila struktur keluarga itu tidak utuh lagi, misalnya seperti perceraian, maka kehidupan keluarga tidak harmonis lagi. Keadaan seperti itu dinamai keluarga pecah atau terpisah dengan

bahasa lainnya yang disebut dengan Broken Home. Disamping itu, keluarga broken home bisa terjadi jika ayah dan ibu terlalu sibuk mengurus kepentingan diluar rumah. Sehingga, jarang sekali berkumpul bersama anak–anak mereka.

3. Faktor – faktor di masyarakat.

Sebab – sebab kenakalan remaja yang berasal dari lingkungan masyarakat, antara lain adalah :

a. Kurangnya pelaksanaan ajaran–ajaran agama secara konsekwen.

b. Masyarakat yang kurang memperoleh pendidikan.

c. Kurangnya pengawasan terhadap remaja. Sebagian remaja beranggapan bahwa orang

tua dan guru terlalu ketat, sehingga tidak memberikan kebebasan baginnya. Sebagian lain mengatakan bahwa orang tua mereka dan guru, tidak pernah memberikan pengawasan terhadap tingkah laku remaja sehingga menimbulkan berbagai kenakalan remaja.

4. Faktor – faktor  dari sekolah.

Sekolah merupakan tempat pendidik yang kedua setelah rumah tangga. Karena itu cukup berperanan dalam membina anak untuk menjadi dewasa yang bertanggung jawab. Sebagai contoh adalah melakukan perbuatan yang melanggar norma–norma hukum misalnya seperti kenakalan remaja dan perkelahian antar sekolah yang berada di kota– kota besar. Perkelahian antar sekolah merupakan proses peniruan atau identifikasi anak remaja terhadap segala gerak–gerik dan tingkah laku orang dewasa “modern dan berbudaya” sekarang ini.

Tujuan Penelitian :

1.    Untuk menganalisis tentang perkembangan para remaja saat ini
2.    Untuk menganalisis pengaruh dampak terhadap orangtua
3.    Untuk menganalisis pengaruh tingkah laku para remaja terhadap ligkungan sekitar

Hasil dan Pembahasan : beberapa remaja menyalahkan diri mereka dan merasa bersalah serta merasa menjadi penyebab perceraian. Akan tetapi, perceraian juga dapat membawa efek positif yaitu berakhirnya kekacauan dan gangguan dalam keluarga. Beberapa remaja yang orang tuanya bercerai dilaporkan bahwa, pertengkaran orang tua sebelum terjadi perceraian lebih menyebabkan stress dibandingkan perceraian itu sendiri. Remaja dilaporkan memiliki kekhawatiran akan kekerasan fisik, keadaan sosial yang memalukan karena pertengkaran orang tua, kesulitan ekonomi, kecemasan serta kebingungan akan perpisahan orang tua yang berlarut larut dan berharap orang tua mereka berdamai kembali. Pada beberapa kasus, perceraian menjadi pembebasan dari tahun-tahun pertengkaran. Akan tetapi, perpisahan orang tua, tidak selalu menghasilkan pengalaman traumatis bagi anak.  Namun perceraian tidak selalu berdampak negatif. Sikap untuk menghindari konflik, rasa tidak puas, perbedaan paham yang terus menerus, maka peristiwa itu satusatunya jalan keluar untuk memperoleh ketentraman diri (Dagun, 2002). Dalam jangka waktu yang agak lama, dampak perceraian bersifat lebih positif. Hal ini dikuatkan oleh Weiss (dalam Dagun, 2002) bahwa tuntutan yang tinggi pada anak dengan orangtua bercerai untuk lebih bertanggung jawab juga membuat mereka lebih peka dan mandiri.

Tahapan Penelitian : 

Rekomendasi dan Implikasi : Kenakalan adalah hal yang wajar bagi para remaja yang usianya masih dalam masa pertumbuhan, namun kenakalan ini akan mereda dikarenakan usia mereka yg tidak kekanak-kanakan lagi, mereka akan berpikir dampak akibatnya jika mereka bertingkah laku seperti itu lagi. perpisahan orang tua membuat batin dia tersiksa, di kalangan remaja sebagian kini akan berubah yang lebih baik.

 

JURNAL 2

PENGARANG: ACHMAD KAUTSAR

JUDUL: PERILAKU AGRESI PADA REMAJA YANG ORANG TUANYA BERCERAI

TAHUN : 2011

TEMA            : DAMPAK AKIBAT PERCERAIAN ORANG TUA TERHADAP PERILAKU REMAJA

LATAR BELAKANG MASALAH

Fenomena : Setiap perceraian membawa pengaruh pada anak yang orang tuanya bercerai, karena cenderung memiliki perilaku yang berbeda-beda dibandingkan dengan anak yang orang tuanya tidak bercerai, karena perkawinan yang bermasalah membuat anak menjadi bermasalah peristiwa perceraian menimbulkan perilaku pada anak seperti ketidakstabilan emosi, mengalami rasa cemas, tertekan, dan sering marah-marah. Kekecewaan, sakit fisik, penghinaan, atau ancaman sering memancing amarah dan akhirnya memancing agresi dan ancaman merupakan pancingan yang jitu terhadap amarah yang akan mengarah pada agresi.

Penelitian yang di jadikan dasar :

dalam setiap perceraian akan dapat menimbulkan dampak perilaku agresi pada remaja. Namun dampak tersebut dapat berbeda pada satu individu dengan individu yang lainnya.

Motivasi penelitian :
Untuk mengetahui dampak agresi para remaja terhadap orang tua.

MASALAH :
terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan perilaku agresi, yakni:

a. Faktor Biologis

Ada beberapa faktor biologis yang mempengaruhi perilaku agresi, yaitu faktor gen, faktor sistem otak dan faktor kimia darah. Berikut ini uraian singkat dari faktor-faktor tersebut:

1) Gen berpengaruh pada pembentukan sistem neural otak yang mengatur penelitian yang dilakukan terhadap binatang, mulai dari yang sulit sampai yang paling mudah amarahnya, faktor keturunan tampaknya membuat hewan jantan mudah marah dibandingkan dengan betinanya.

2) Sistem otak yang terlibat dalam agresi ternyata dapat memperkuat atau mengendalikan agresi.

3) Kimia darah. Kimia darah khususnya hormon seks yang sebagian ditentukan faktor keturunan mempengaruhi perilaku agresi.

b. Faktor Belajar Sosial

Dengan menyaksikan perkelahian dan pembunuhan meskipun sedikit pasti akan menimbulkan rangsangan dan memungkinkan untuk meniru model kekerasan tersebut.

c. Faktor Lingkungan

Perilaku agresi disebabkan oleh beberapa faktor. Berikut uraian singkat mengenai faktor-faktor tersebut:

1) Kemiskinan

Bila seorang anak dibesarkan dalam lingkungan kemiskinan, maka perilaku agresi mereka secara alami mengalami peningkatan.

2) Anonimitas

Kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan kota besar lainnya menyajikan berbagai suara, cahaya, dan bermacam informasi yang sangat luar biasa besarnya. Orang secara otomatis cenderung berusaha untuk beradaptasi dengan melakukan penyesuaian diri terhadap rangsangan yang berlebihan tersebut. Terlalu banyak rangsangan indera kognitif membuat dunia menjadi sangat impersonal, artinya antara satu orang dengan orang lain tidak lagi saling mengenal atau mengetahui secara baik. Lebih jauh lagi, setiap individu cenderung menjadi anonim (tidak mempunyai identitas diri).

3) Suhu udara yang panas dan kesesakan

Suhu suatu lingkungan yang tinggi memiliki dampak terhadap tingkah laku sosial berupa peningkatan agresivitas.

d. Faktor Amarah

Marah merupakan emosi yang memiliki ciri-ciri aktivitas sistem saraf parasimpatetik yang tinggi dan adanya perasaan tidak suka yang sangat kuat yang biasanya disebabkan adanya kesalahan, yang mungkin nyata-nyata atau salah atau juga tidak.

5. Langkah-langkah Pencegahan Tingkah Laku Agresi

Menurut Koeswara (1988), langkah-langkah konkret yang dapat diambil untuk mencegah kemunculan atau berkembangnya tingkah laku agresi itu adalah: penanaman moral, pengembangan tingkah laku non agresi, dan pengembangan kemampuan memberikan empati.

a. Penanaman Moral

Penanaman moral merupakan langkah yang paling tepat untuk mencegah kemunculan tingkah laku agresi. Penanaman moral ini akan berhasil apabila dilaksanakan secara berkesinambungan dan konsisten sejak usia dini di berbagai lingkungan dengan melibatkan segenap pihak yang memikul tanggung jawab dalam proses sosialisasi.

b. Pengembangan Tingkah Laku Non Agresi

Untuk mencegah berkembangnya tingkah laku agresi, yang perlu dilakukan adalah mengembangkan nilai-nilai yang mendukung perkembangan tingkah laku non agresi, dan menghapus atau setidaknya  mengurangi nilai-nilai yang mendorong perkembangan tingkah laku agresi.

c. Pengembangan Kemampuan Memberikan Empati

Pencegahan tingkah laku agresi bisa dan perlu menyertakan pengembangan kemampuan mencintai pada individu-individu. Adapun kemampuan mencintai itu sendiri dapat berkembang dengan baik apabila individu-individu dilatih dan melatih diri untuk mampu menempatkan diri dalam dunia batin sesama serta mampu memahami apa yang dirasakan atau dialami dan diinginkan maupun tidak diinginkan oleh sesamanya.

Tujuan Penelitian :
Tujuan dari penelitian ini adalah ingin mendapatkan gambaran mengenai perilaku agresi pada remaja sebagai dampak dari perceraian orang tua.

 Hasil dan Pembahasan : 

Beberapa hal yang biasanya dirasakan oleh anak ketika orang tuanya  bercerai adalah perasaan tidak aman (insecure), merasa tidak diinginkan, merasa  sedih, merasa marah, merasa kehilangan, dan merasa bersalah atau menyalahkan  diri sendiri (Tasmin, 2002). mengungkapkan bahwa jika seseorang sedang dalam  keadaan marah atau frustasi, maka reaksinya akan menjadi semakin agresif  (Sarwono, 1999). Agresi merupakan pelampiasan dari perasaan frustasi (Dollar  dan Miller dalam Sarwono, 1988). Agresi merupakan suatu bentuk perilaku yang mempunyai niat tertentu untuk melukai secara fisik atau psikologis pada diri orang lain (Berkowitz, 1987).  Perceraian juga berdampak dalam perkembangan remaja, setiap tingkat  usia anak dalam menyesuaikan diri dengan situasi baru ini memperlihatkan cara  dan penyelesaian yang berbeda. Perasaan-perasaan tersebut di atas oleh anak  dapat termanifestasikan dalam bentuk perilaku-perilaku agresi, antara lain suka mengamuk, dan menjadi kasar (Tasmin, 2002).  Perilaku agresi lebih banyak terjadi pada remaja, hal ini disebabkan oleh  keadaan remaja yang masih labil, dan mudah terpengaruh oleh situasi lingkungan.  Salah satu bentuk perilaku yang diakibatkan oleh perceraian kedua orang tua adalah anak menjadi kasar dalam tindakan maupun berbicara. Hal ini mungkin  disebabkan oleh karena terbiasa menyaksikan peristiwa perkelahian atau  percekcokan kedua orang tuanya di lingkungan rumah, hingga dapat memperkuat  perilaku agresi pada dirinya (Tasmin, 2002).  Perilaku agresif dari remaja yang orang tuanya bercerai terlihat  cenderung ke arah verbal langsung, yang meliputi sikap membenci (diekspresikan  dalam kata-kata), memarahi, terlibat dalam pertengkaran seperti menyindir,  merendahkan, mencaci maki, menyalahkan, mengejek atau menolak seseorang,  mengkritik orang lain di depan umum, menuduh dan mengancam. Anak-anak dari  keluarga yang retak, aktivitas fisiknya menjadi lebih agresif pada tahun pertama  dan di tahun berikutnya anak kurang menampilkan kegirangan atau muncul 21 kemurungan dalam dirinya, mereka lebih diselimuti perasaan cemas (Dagun,  2002).

Rekomendasi dan Implikasi : 

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpukan bahwa perceraian  kedua orang tua dalam keluarga akan menimbulkan perasaan tidak aman  (insecure), merasa tidak diinginkan, merasa sedih, merasa marah, merasa  kehilangan, dan merasa bersalah atau menyalahkan diri sendiri pada remaja yang masih labil dan mudah terpengaruh oleh situasi lingkungan. Hal ini dapat mengarah pada keadaan marah atau frustasi yang pada akhirnya dapat menimbulkan perilaku agresi.

 

JURNAL 3

PENGARANG: MILLAH HAYATI S.R

JUDUL: KEPERCAYAAN DIRI PADA REMAJA YANG ORANGTUANYA BERCERAI

TAHUN : 2007

TEMA            : DAMPAK AKIBAT PERCERAIAN ORANG TUA TERHADAP PERILAKU REMAJA

LATAR BELAKANG MASALAH

Fenomena : Keluarga merupakan suatu sistem kesatuan yang terdiri dari ayah, ibu, serta anak yang kesemuanya saling mempengaruhi dan dipenggaruhi satu sama lain. Di dalam keluarga terdapat orangtua. Tugas utama orangtua dan keluarga sangat mulia. Ini seringkali tidak berjalan sesuai dengan harapan. Pasangan suami istri kerap dihadapkan oleh perselisihan dan permusuhan yang menuntut mereka untuk mencari titik temu. Seringpula suami istri terjebak dalam situasi tidak mampu lagi mencari titik temu dan merasa tidak cocok lagi untuk berkerjasama sebagai pasangan atau juga orangtua. Tidak sedikit pasangan mengalami keputusan untuk tetap mempertahankan perkawinan meskipun menghadapi kemelut yang tidak terselesaikan, dan sedikit pula yang memilih untuk berpisah. Perpisahan terjadi dalam bermacam-macam bentuk. Ini bisa terjadi dalam perjanjian secara “bersahabat” antara pasangan bahwa akan lebih bahagia jika tinggal secara terpisah. Bisa juga hal ini telah direncanakan terlebih dahulu oleh salah satu orangtua tanpa sepengetahuan pihak lain (Mitchell, 1996). Perpisahan juga bisa dianggap oleh kedua belah pihak sebagai salah satunya jalan keluar dari perkawinan yang tidak bahagia dimana telah diusahakan untuk tidak retak. Keretakan perkawinan sering menimbulkan kekecewaan atau patah hati bagi semua pihak yang terlibat baik para suami, istri ataupun anak-anak dan juga anggota-anggota lain dari keluarga itu bahkan teman-teman dekat. Untuk sebagian orang, ini malah membawa kelepasan dari ketegangan atau ketakutan. Sehingga perceraian kemudian muncul sebagai solusi alternatif kemelut rumah tangga (Mitchell, 1996). Namun apapun alasannya, perceraian selalu menimbulkan akibat buruk pada anak, meskipun dalam kasus tertentu dianggap alternatif terbaik daripada membiarkan anak tinggal dalam keluarga dengan kehidupan pernikahan yang buruk.

Penelitian yang di jadikan dasar :

seorang remaja yang orangtuanya bercerai tetap memiliki kepercayaan diri yang tinggi ataukah sebaliknya memiliki kepercayaan diri yang rendah, mengapa kepercayaan dirinya seperti itu, dan bagaimana prosesnya. Hal ini ingin digali melalui penelitian ini.

Motivasi penelitian :

Untuk mengetahui kepercayaan remaja terhadap bercerainya orang tua.

MASALAH

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kepercayaan diri,

antara lain:

a. Pola asuh

Menurut Middlebrook (1980) menyatakan bahwa asuhan dan didikan yang diberikan oleh orangtua kepada anaknya di dalam keluarga, merupakan faktor utama yang besar pengaruhnya bagi perkembangan anak di masa yang akan datang. Penanaman dasar kepribadian anak terbentuk dalam keluarga, untukkemudian berkembang melalui pengalaman-pengalaman selanjutnya ketika

berada di dalam masyarakat luas. Ada tiga jenis pola asuh antara lain otoriter, demokratis, permisif. Pola asuh yang terlalu menuntut (otoriter) dan tidak pernah merasa puas dengan segala tingkah laku anaknya, sehingga akan menghasilkan anak yang memiliki perasaan serba ketakutan, tidak aman dan pada akhirnya tumbuh kepercayaan diri yang rendah. Demikian pula pengasuhan yang permisif, yang serba membolehkan anak melakukan apa saja tanpa bimbingan orangtua, akan menghasilkan anak yang ragu-ragu dan tidak bertanggung jawab karena anak tidak memperoleh informasi apakah tindakan yang dilakukan itu baik atau buruk, benar atau salah. Pola asuh demokratis mendukung tumbuhnya kepercayaan diri yang lebih baik karena orangtua memberikan kekebasan bagi

anak untuk memutusakan sesuatu yang penting bagi dirinya tetapi tetap mengawasi dan mengajarkan anak untuk bertanggung jawab terhadap putusannya. Menurut Rini (2002) menyatakan bahwa faktor pola asuh merupakan faktor yang amat mendasar bagi pembentukan rasa percaya diri. Orangtua yang

menunjukkan kasih, perhatian, penerimaan, cinta dan kasih sayang serta kelekatan emosional yang tulus dengan anak, akan membangkitkan rasa percaya diri pada anak.

b. Jenis Kelamin

Menurut Middlebrook (1980) menyatakan bahwa perbedaan jenis kelamin, terutama berkaitan dengan peran jenis kelamin (sex role). Perempuan cenderung dianggap sebagai makhluk lemah dan harus dilindungi. Anak perempuan kurang didorong untuk berprestasi, kurang diberi kesempatan

mengembangkan potensinya sehingga mereka dapat menjadi under estimate terhadap kemampuannya. Pada akhirnya kepercayaan diri anak perempuan dapat lebih rendah bila dibandingkan dengan anak laki-laki. Dilain pihak kepercayaan diri yang rendah pada wanita tidak terjadi di semua bidang kehidupan melainkan berlaku pada bidang-bidang yang dianggap “maskulin”

atau yang cocok untuk laki-laki seperti bidang ilmu pengetahuan alam dan matematika. Sedangkan laki-laki harus bersikap sebagai makhluk yang kuat, mandiri dan mampu melindungi. Di samping itu, pada umumnya laki-laki dianggap mempunyai potensi yang lebih baik dan memiliki kedudukan yang

lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan. Anak laki-laki didorong untuk selalu berprestasi, mereka banyak diberi kesempatan untuk mewujudkan potensi dan keterampilannya sehingga mereka dapat menjadi over estimate terhadap kemampuannya.

c. Pendidikan

Menurut Middlebrook (1980) menyatakan bahwa pendidikan seringkali semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, maka semakin tinggi pula anggapan orang lain terhadap dirinya. Mereka yang memiliki jenjang pendidikan lebih rendah pada umumnya akan merasa tersisih, dan akhirnya tidak memiliki keyakinan akan kemampuan sendiri. Sedangkan mereka yang berpendidikan tinggi justru terpacu untuk menunjukkan kemampuan dirinya, sehingga menimbulkan keyakinan yang mantap terhadap kemampuannya sendiri.

d. Penampilan fisik

Menurut Middlebrook (1980) menyatakan bahwa individu yang puas dengan keadaan dan penampilan fisiknya cenderung menghargai dirinya lebih tinggi daripada yang tidak. Sejak anak-anak, individu sadar bahwa penampilan fisik membawa dampak. Dengan memiliki tubuh yang menarik, teman-teman menyukai, orang-orang sekitar lebih peduli, masyarakat menghargai.

Sebaliknya keadaan tubuh yang kurang menarik dapat dijauhi teman, dinilai kurang cakap oleh guru, dianggap sepi oleh lingkungan dan diragukan masa depannya oleh masyarakat. Tanggapan orang-orang tersebut mempengaruhi kepercayaan diri individu itu.

e Pola pikir negatif

Rini (2002) berpendapat dalam hidup bermasyarakat, individu mengalami berbagai masalah, kejadian, bertemu orang-orang baru dan lain-lain, semua itu membawa reaksi yang berbeda dari setiap individu. Perbedaan reaksi yang muncul dipengaruhi oleh cara berpikirnya, individu dengan percaya diri yang lemah, cenderung mempersepsikan segala sesuatu dari sisi negatif, dengan ciri-ciri sebagai berikut:

1) Menekankan keharusan-keharusan pada diri sendiri. Ketika gagal, individu merasa seluruh hidup dan masa depan hancur.

2) Pesimistik yang futuristic (satu saja kegagalan kecil, individu tersebut sudah merasa tidak berhasil meraih cita-citanya dimasa depan).

3) Tidak iritis dan selektif terhadap self criticism : suka mengkritik diri sendiri dan percaya dirinya memang pantas dikritik.

4) Labeling : mudah menyalakan diri sendiri dan memberikan sebutansebutan negatif.

5) Sulit menerima pujian ataupun hal positif dari orang lain.

TUJUAN PENELITIAN

1. Mendapatkan penjelasan yang mendalam mengenai bagaimana gambaran

kepercayaan diri subjek yang orangtuanya bercerai ?

2. Mendapatkan penjelasan yang mendalam mengenai mengapa kepercayaan

diri subjek dapat rendah atau tinggi ?

3. Mendapatkan penjelasan yang mendalam mengenai bagaimana proses

perkembangan kepercaraan diri subjek yang orangtuanya bercerai ?

Hasil dan Pembahasan : 

Dalam mengarungi kehidupan seorang anak terkadang harus terjatuh dalam suatu permasalahan yang menuntut anak untuk berpikir. Kadangkala apa yang diharapakan tidak selalu berjalan dengan mulus. Permasalahan yang timbul seperti perceraian orangtuanya. Perceraian merupakan putusnya hubungan perkawinan secara hukum dan permanen. Tindakan hukum ini akan mempengaruhi hak asuh atas anak, hak kunjungan dari orangtua, pembagian harta benda, dan tunjangan anak. Perceraian yang biasanya didahului oleh konflik antar pasangan suami istri merupakan suatu proses kompleks yang mengawali berbagai perubahan emosi, psikologis dan lingkungan (King, 1992). Saat permasalahan ini muncul terkadang remaja berpikir apa yang terjadi dengan orangtuanya, mengapa orangtuanya harus berpisah, apakah karena nakal atau tidak selalu menuruti perintah orangtua. Perceraian orangtuanya terkadang membuat anak sulit untuk menerima perubahan ini. Menurut Tasmin, (2002) terkadang anak mengalami tidak aman (insecurity), tidak diinginkan atau ditolak oleh orangtuanya yang pergi, sedih dan kesepian, marah, kehilangan, merasa bersalah, menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab orangtua bercerai., shock dan tidak percaya, binggung untuk memihak salah satu orangtua, cemburu, benci dan marah. Saat perceraian terjadi biasanya remaja merasakan rasa sakit, ketidakbahagiaan, kesedihan dan mungkin dukacita yang mendalam. Para orangtua kadang tidak menyadari bila anaknya mengalami depresi. Orangtua hanya berpikir bahwa hubungannya tidak bahagia akhinya memutuskan 25 hubungan, dan diantara kedua orangtuanya jarang merasakan apa yang dirasakan oleh anak-anaknya (Charlish, 2003). Masa remaja adalah masa dimana adanya peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang merupakan masa penuh gejolak dan kegelihasan. Di masa ini anak sangat membutuhkan tuntunan dan bimbingan dari orangtuanya untuk mengenali apa yang ada di lingkungan sekitarnya, agar nantinya remaja tidak salah jalan dan tumbuh dan berkembang sesuai dengan apa yang diharapkan orangtuanya. Pola tingkah laku dan kepribadian pada masa remaja akan mendasari masa depanya. Masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat-sifat masa transisi atau peralihan, karena remaja belum memperoleh status orang dewasa tetapi tidak lagi memiliki status kanak-kanak (Calon dalam Haditono, dkk 2002). Pada masa ini seharusnya remaja selalu dibimbing oleh orangtuanya, karena pada masa ini remaja mengalami suatu gejolak dalam dirinya, dan biasanya pada masa ini remaja mencari jati dirinya. Bimbingan serta pengarahan dari orangtua pada masa remaja sangat dibutuhkan sekali agar remaja tidak salah jalan. Biasanya orangtua yang bercerai terkadang tidak memikirkan apa yang dirasakan anaknya dan seringnya orangtua tidak memperdulikan lagi tentang anaknya, hal ini mungkin disebabkan karena terlalu sibuknya mencari uang untuk menghidupi kehidupannya selanjutnya. Dampak dari itu membuat remaja suka melakukan hal-hal yang tidak baik, sepertmenggunakan narkoba, pergaulan bebas. Sebaiknya orangtua tidak lupa menanamkan kepercayaan diri pada anaknya sedini mungkin agar nantinya anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi remaja yang selalu optimis dan berpikiran positif. Karena dengan tingkat kepercayaan diri ini remaja dapat melakukan aktivitas dengan baik dan bila terjadi suatu perubahan pada dirinya, remaja tidak terlalu terganggu atau malu atas perubahan yang terjadi pada dirinya. Menurut Gilmer (dalam Tanaja, 1993) bahwa orang yang mempunyai rasa percaya diri biasanya memiliki sikap berani menghadapi setiap tantangan dan terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru. 26 Dewasa ini orang mulai percaya bahwa perceraian itu tidak hanya berdampak buruk bagi anak-anak yang terlibat didalamnya. Perceraian sebaliknya dapat pula menjadi pemicu munculnya perilaku positif pada anak-anak tersebut. Berpikir positif adalah kata yang tepat dalam mensikapi diri serta saat berinteraksi dengan orang lain. Berpikir positif akan tercapai apabila seseorang mampu menerima kekurangan dan kelebihan dalam dirinya. Pada orang yang percaya diri, berpikir positif berperan penting dalam proses pengembangan diri dan interaksi dengan orang lain. Sikap menerima diri secara utuh dapat tumbuh berkembang sehingga orang yang percaya diri dapat menghargai orang lain dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada (dalam Hakim, 2002).

Rekomendasi dan Implikasi : 

Kepercayaan akan dirinya yang berlebihan (over confidence) menyebabkan seseorang dapat bertindak kurang memperhatikan lingkungannya dan cenderung melanggar norma dan etika standar yang berlaku, serta memandang rendah orang lain. Selain itu, orang yang memiliki over confidence sering memiliki sikap dan pemikiran yang over estimate terhadap sesuatu. Sebaliknya kepercayaan diri yang kurang, dapat menyebabkan seseorang cenderung bertindak ragu-ragu, rasa rendah diri dan tidak memiliki keberanian.
Kepercayaan diri yang berlebihan maupun kurang, dapat menimbulkan kerugian tidak hanya bagi dirinya namun juga bagi lingkungan sosialnya (Irayani, 2007).

KESIMPULAN

Dari data ketiga jurnal diatas, saya dapat menyimpulkan bahwa :Dari ketiga masalah tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat adanya kesamaan yaitu dampak nya sangatlah kuat, batin, pola pikir dan penampilan para remaja akan terganggu. Stress juga dapat menimpa remaja dikarenakan bercerainya orang tua membuat mereka putus asa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: