METODE RISET

BAB II

LANDASAN TEORI

Beberapa hal yang biasanya dirasakan oleh anak ketika orang tuanya  bercerai adalah perasaan tidak aman (insecure), merasa tidak diinginkan, merasa  sedih, merasa marah, merasa kehilangan, dan merasa bersalah atau menyalahkan  diri sendiri (Tasmin, 2002). mengungkapkan bahwa jika seseorang sedang dalam  keadaan marah atau frustasi, maka reaksinya akan menjadi semakin agresif  (Sarwono, 1999). Agresi merupakan pelampiasan dari perasaan frustasi (Dollar  dan Miller dalam Sarwono, 1988). Agresi merupakan suatu bentuk perilaku yang mempunyai niat tertentu untuk melukai secara fisik atau psikologis pada diri orang lain (Berkowitz, 1987).  Perceraian juga berdampak dalam perkembangan remaja, setiap tingkat  usia anak dalam menyesuaikan diri dengan situasi baru ini memperlihatkan cara  dan penyelesaian yang berbeda. Perasaan-perasaan tersebut di atas oleh anak  dapat termanifestasikan dalam bentuk perilaku-perilaku agresi, antara lain suka mengamuk, dan menjadi kasar (Tasmin, 2002). Pada beberapa kasus, perceraian menjadi pembebasan dari tahun-tahun pertengkaran. Akan tetapi, perpisahan orang tua, tidak selalu menghasilkan pengalaman traumatis bagi anak.  Namun perceraian tidak selalu berdampak negatif. Sikap untuk menghindari konflik, rasa tidak puas, perbedaan paham yang terus menerus, maka peristiwa itu satusatunya jalan keluar untuk memperoleh ketentraman diri (Dagun, 2002). Dalam jangka waktu yang agak lama, dampak perceraian bersifat lebih positif. Hal ini dikuatkan oleh Weiss (dalam Dagun, 2002) bahwa tuntutan yang tinggi pada anak dengan orangtua bercerai untuk lebih bertanggung jawab juga membuat mereka lebih peka dan mandiri.

Perilaku agresif dari remaja yang orang tuanya bercerai terlihat  cenderung ke arah verbal langsung, yang meliputi sikap membenci (diekspresikan  dalam kata-kata), memarahi, terlibat dalam pertengkaran seperti menyindir,  merendahkan, mencaci maki, menyalahkan, mengejek atau menolak seseorang,  mengkritik orang lain di depan umum, menuduh dan mengancam. Anak-anak dari  keluarga yang retak, aktivitas fisiknya menjadi lebih agresif pada tahun pertama  dan di tahun berikutnya anak kurang menampilkan kegirangan atau muncul 21 kemurungan dalam dirinya, mereka lebih diselimuti perasaan cemas beberapa remaja menyalahkan diri mereka dan merasa bersalah serta merasa menjadi penyebab perceraian. Akan tetapi, perceraian juga dapat membawa efek positif yaitu berakhirnya kekacauan dan gangguan dalam keluarga. Beberapa remaja yang orang tuanya bercerai dilaporkan bahwa, pertengkaran orang tua sebelum terjadi perceraian lebih menyebabkan stress dibandingkan perceraian itu sendiri. Remaja dilaporkan memiliki kekhawatiran akan kekerasan fisik, keadaan sosial yang memalukan karena pertengkaran orang tua, kesulitan ekonomi, kecemasan serta kebingungan akan perpisahan orang tua yang berlarut larut dan berharap orang tua mereka berdamai kembali.  Perilaku agresi lebih banyak terjadi pada remaja, hal ini disebabkan oleh  keadaan remaja yang masih labil, dan mudah terpengaruh oleh situasi lingkungan.  Salah satu bentuk perilaku yang diakibatkan oleh perceraian kedua orang tua adalah anak menjadi kasar dalam tindakan maupun berbicara. Hal ini mungkin  disebabkan oleh karena terbiasa menyaksikan peristiwa perkelahian atau  percekcokan kedua orang tuanya di lingkungan rumah, hingga dapat memperkuat  perilaku agresi pada dirinya (Tasmin, 2002).

Tindakan hukum ini akan mempengaruhi hak asuh atas anak, hak kunjungan dari orangtua, pembagian harta benda, dan tunjangan anak. Perceraian yang biasanya didahului oleh konflik antar pasangan suami istri merupakan suatu proses kompleks yang mengawali berbagai perubahan emosi, psikologis dan lingkungan (King, 1992). Saat permasalahan ini muncul terkadang remaja berpikir apa yang terjadi dengan orangtuanya, mengapa orangtuanya harus berpisah, apakah karena nakal atau tidak selalu menuruti perintah orangtua. Perceraian orangtuanya terkadang membuat anak sulit untuk menerima perubahan ini. Menurut Tasmin, (2002) terkadang anak mengalami tidak aman (insecurity), tidak diinginkan atau ditolak oleh orangtuanya yang pergi, sedih dan kesepian, marah, kehilangan, merasa bersalah, menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab orangtua bercerai., shock dan tidak percaya, binggung untuk memihak salah satu orangtua, cemburu, benci dan marah. Saat perceraian terjadi biasanya remaja merasakan rasa sakit, ketidakbahagiaan, kesedihan dan mungkin dukacita yang mendalam. Para orangtua kadang tidak menyadari bila anaknya mengalami depresi. Orangtua hanya berpikir bahwa hubungannya tidak bahagia akhinya memutuskan 25 hubungan, dan diantara kedua orangtuanya jarang merasakan apa yang dirasakan oleh anak-anaknya (Charlish, 2003). Masa remaja adalah masa dimana adanya peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang merupakan masa penuh gejolak dan kegelihasan. Dampak dari itu membuat remaja suka melakukan hal-hal yang tidak baik, sepertmenggunakan narkoba, pergaulan bebas. Sebaiknya orangtua tidak lupa menanamkan kepercayaan diri pada anaknya sedini mungkin agar nantinya anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi remaja yang selalu optimis dan berpikiran positif. Karena dengan tingkat kepercayaan diri ini remaja dapat melakukan aktivitas dengan baik dan bila terjadi suatu perubahan pada dirinya, remaja tidak terlalu terganggu atau malu atas perubahan yang terjadi pada dirinya. Menurut Gilmer (dalam Tanaja, 1993) bahwa orang yang mempunyai rasa percaya diri biasanya memiliki sikap berani menghadapi setiap tantangan dan terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru. 26 Dewasa ini orang mulai percaya bahwa perceraian itu tidak hanya berdampak buruk bagi anak-anak yang terlibat didalamnya. Perceraian sebaliknya dapat pula menjadi pemicu munculnya perilaku positif pada anak-anak tersebut. Berpikir positif adalah kata yang tepat dalam mensikapi diri serta saat berinteraksi dengan orang lain. Berpikir positif akan tercapai apabila seseorang mampu menerima kekurangan dan kelebihan dalam dirinya. Pada orang yang percaya diri, berpikir positif berperan penting dalam proses pengembangan diri dan interaksi dengan orang lain. Sikap menerima diri secara utuh dapat tumbuh berkembang sehingga orang yang percaya diri dapat menghargai orang lain dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada (dalam Hakim, 2002). Di masa ini anak sangat membutuhkan tuntunan dan bimbingan dari orangtuanya untuk mengenali apa yang ada di lingkungan sekitarnya, agar nantinya remaja tidak salah jalan dan tumbuh dan berkembang sesuai dengan apa yang diharapkan orangtuanya. Pola tingkah laku dan kepribadian pada masa remaja akan mendasari masa depanya. Masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat-sifat masa transisi atau peralihan, karena remaja belum memperoleh status orang dewasa tetapi tidak lagi memiliki status kanak-kanak (Calon dalam Haditono, dkk 2002). Pada masa ini seharusnya remaja selalu dibimbing oleh orangtuanya, karena pada masa ini remaja mengalami suatu gejolak dalam dirinya, dan biasanya pada masa ini remaja mencari jati dirinya. Bimbingan serta pengarahan dari orangtua pada masa remaja sangat dibutuhkan sekali agar remaja tidak salah jalan. Biasanya orangtua yang bercerai terkadang tidak memikirkan apa yang dirasakan anaknya dan seringnya orangtua tidak memperdulikan lagi tentang anaknya, hal ini mungkin disebabkan karena terlalu sibuknya mencari uang untuk menghidupi kehidupannya selanjutnya.

 

TERAPAN TEORI

Perilaku agresif dari remaja yang orang tuanya bercerai terlihat  cenderung ke arah verbal langsung, yang meliputi sikap membenci (diekspresikan  dalam kata-kata), memarahi, terlibat dalam pertengkaran seperti menyindir,  merendahkan, mencaci maki, menyalahkan, mengejek atau menolak seseorang,  mengkritik orang lain di depan umum, menuduh dan mengancam seseorang langsung ke sasaannya.

 

PENGEMBANGAN HIPOTESIS

Kenakalan adalah hal yang wajar bagi para remaja yang usianya masih dalam masa pertumbuhan, namun kenakalan ini akan mereda dikarenakan usia mereka yg tidak kekanak-kanakan lagi, Selain itu, orang yang memiliki over confidence sering memiliki sikap dan pemikiran yang over estimate terhadap sesuatu. Sebaliknya kepercayaan diri yang kurang, dapat menyebabkan seseorang cenderung bertindak ragu-ragu, rasa rendah diri dan tidak memiliki keberanian. Kepercayaan diri yang berlebihan maupun kurang, dapat menimbulkan kerugian tidak hanya bagi dirinya namun juga bagi lingkungan sosialnya (Irayani, 2007). Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpukan bahwa perceraian  kedua orang tua dalam keluarga akan menimbulkan perasaan tidak aman  (insecure), merasa tidak diinginkan, merasa sedih, merasa marah, merasa  kehilangan, dan merasa bersalah atau menyalahkan diri sendiri pada remaja yang masih labil dan mudah terpengaruh oleh situasi lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: